Saturday, January 15, 2011

Tonight but not only tonight


Tonight...
I hold them tight...
Let me be their light...
And let them be my knight....
but not only tonight...

Friday, September 17, 2010

Mudik

Senangnya bisa mudik saat lebaran bersama orangtua, suami, anak, kakak, serta keponakan. Hal yang rasanya sulit sekali bisa terjadi ini secara spontan kami siapkan sekitar satu bulan sebelum puasa 1431H ini. Kebetulan kakak yang tinggal di Kuwait pulang lebaran tahun ini. Tadinya kami berencana akan liburan ke Jogja, tapi entah mengapa saya kok kepikiran lebih baik mudik...rasanya akan lebih menyenangkan!

Desa atau dusun asli orangtua kami terletak di Sumatera Selatan, tepatnya di Kabupaten Ogan Komering Ulu, di mana mengalir Sungai Ogan, maka dari itu penduduk setempat menamakan diri mereka sebagai Orang Ogan. Ayah kami asli Dusun Tangsilontar, sementara ibu berasal dari dusun tetangganya, yaitu Sambirata. Sementara kami adik-beradik (ada 6 orang, saya nomor 5), semuanya lahir dan besar di Jakarta, namun sejak kecil kami sudah diperkenalkan dengan asal-usul kedua orangtua, sehingga ada ikatan batin yang cukup baik dengan kampung halaman mereka. Dulu, ketika masih kanak-kanak, hampir 2-3 tahun sekali kami mudik, meskipun tidak selalu bertepatan dengan lebaran. Akan tetapi semakin dewasa dan terlebih setelah berkeluarga, kami kesulitan mencari waktu yang tepat untuk bisa mudik bersama-sama. Bila dilakukan sendiri-sendiri tak akan semenyenangkan jika sepaguyuban seperti yang biasa terjadi. Saya sendiri sudah 14 tahun tak menginjakkan kaki di kedua dusun tercinta tersebut!

Singkatnya, setelah beberapa bulan yang lalu ayah kami pulang bersama 2 orang adiknya, ia berbagi cerita tentang keaslian dusun yang masih menyenangkan dan indah seperti dahulu. Alam bawah sadar saya membawa bernostalgia ke suasana mandi di Sungai Ogan yang tak terlalu dalam namun jernih dan berarus deras, 14 tahun yang lalu. Ah...membayangkannya saja saya sudah merasa segar, apalagi bila betul-betul dapat mengulang keindahan itu lagi bersama keluarga kecil dan keluarga besar saya! Usul saya untuk mudik bareng pun disambut bersemangat oleh keluarga besar. jadilah pada hari ke 2 lebaran lalu kami berkonvoi 4 mobil menuju kampung halaman.

Malam pertama ketika tiba di Tangsilontar, kami segera memutuskan untuk membersihkan diri di Sungai Ogan. Namun sayang, air sungai sedang pasang setelah hujan cukup deras malam itu...arusnya pun sangat deras, sehingga kami putuskan untuk menunda mandi di sana esok harinya. Keesokan paginya, dengan semangat dan rasa penasaran yang tinggi, kami serombongan menyerbu sungai nan cantik tersebut...Ogan! Anak-anak sangat gembira, terlebih kedua putra saya yang baru pertama kali ini merasakan serunya mandi di Sungai Ogan. Saya dan kakak-kakak pun merasakan kegirangan yang tak kalah seru...bernostalgia di sini, di sungai masa kanak-kanak kami...

Hari itu, hampir 2 jam kami mandi di Ogan yang tetap memesona. Benar kata orang-orang dusun, kalau sudah sekali mandi di sungai ini, maka kami baru betul-betul jadi orang Ogan! Suami dan anak-anak saya juga sudah 'ditasbih' sebagai bagian dari orang Ogan, karena mereka tak menolak bila diajak kembali mudik suatu saat nanti. Belum lagi keasyikan lain seperti bertemu dengan sanak saudara di sana, acara jalan-jalan ke Baturaja, wisata Sungai Musi di Palembang, dan ditutup dengan mengunjungi nenek tercinta di Kotabumi, Lampung. Tak terasa wisata mudik 5 hari tersebut berlalu dengan cepatnya. Betul-betul liburan menyenangkan yang mampu membuat pikiran dan jiwa menjadi kembali segar! Subhanallah, Alhamdulillah...terima kasih ya Allah atas kesehatan dan rezeki yang Kau berikan pada kami sekeluarga!

Malam hari setelah kembali pulang ke rumah di BSD, sebelum beranjak tidur, suami memeluk dan mengecup kening saya seraya berbisik, "Terima kasih untuk liburannya ya Sayang..." Hmm...betul-betul sudah jadi Orang Ogan rupanya dia ;-)

Sunday, August 8, 2010

Rendang untuk Sahur


Puasa sudah di ambang mata...nggak kerasa ya!
Tahun ini, Rizki dan Rayhan puasa lagi, Insyaallah. Bagi Rizki, puasa ini akan jadi yang ketiga, sementara Rayhan memasuki tahun kedua berpuasa. Semoga mereka berdua diberi kesehatan, kesabaran, dan kekuatan iman oleh Allah, S.W.T.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, sejak berkeluarga, saya punya ritual memasak rendang untuk sahur di awal puasa. Entah kenapa, bagi saya rendang adalah menu wajib minggu pertama sahur. Alasannya sangat simpel, selain praktis, rendamg juga jadi sajian jitu pembangkit selera makan di pagi buta...apalagi di minggu awal puasa.

Alhamdulillah, Rizki dan Rayhan sekarang juga sudah mulai dapat menikmati rendang. Biasanya kalau makan dengan rendang, mereka bisa-bisanya nambah sampai 3-4 kali! Kalau sudah begitu, kelelahan dan kebosanan memasak rendang terbayar sudah melihat lahapnya anak-anak dan suami tercinta menyantapnya!

Now I'm still stuck with my rendang and the busy kitchen! It's been almost 2 hours dealing with it. Thank's to internet yang menemani saya mengawasi masakan sedari tadi. Anak-anak dan papanya pergi keluar nonton Avatar. Mama tak bisa lari jauh dari rendang pesanan mereka...but still it's worthed and paid off to make them happy on the first Ramadhan day.

Hmm...rendangnya sudah mulai masak dan sekarang sedang disantap anak-anak yang kelaparan. Rupanya mereka kehabisan tiket nonton yang jam 19.00 dan membeli untuk show berikutnya, jam 21.15. Akhirnya ketiganya memutuskan pulang dulu untuk makan malam dengan rendang yang menggoda selera...Nah, nah...sekarang Rayhan minta tambah untuk yang ketiga kalinya! Alhamdulillah, mama happy sekali...;-)

Friday, August 6, 2010

What a week-end!!!

Ini hari Sabtu, tapi saya harus bersiap-siap ke kantor...ada kerjaan foto-memfoto menunggu!
Malas??? Tentu ya...karena yang namanya akhir pekan, paling enak ya leyeh-leyeh di rumah sambil nulis sampai jam 12 siang...terus cari lunch enak, jalan-jalan, dan sebelum larut sudah ada di rumah, lalu... leyeh-leyeh lagilah...he, he,...

Sabtu ini berbeda, saya harus ke kantor yang jaraknya sekitar 10 menit saja dari rumah, tapi kok menyeret kaki keluar pintu gerbang saja perlu waktu hampir 2 jam! Suami sudah saya minta mandi dari tadi karena dia juga akan ngantor, 'lah tapi yang nyuruh ini masih asyik nulis...piye toh?

Wes 'lah...saya mandi dulu, nanti kalau ada waktu bisa disambung lagi nulisnya...
Malas? Tentu tidak...tak ada kata malas untuk menulis, hanya saja sulit mencari waktu yang pas kalau week-end... piye iki dadine????

Monday, July 26, 2010

Pantun untuk APP





Kemarin sore, di tengah perjalanan pulang ke rumah...


  • Sebuah sms masuk, berisi pantun.
  • Sms berikutnya masuk berisikan pesan: "Suse tolong kau liat pantun itu. Kau perbaiki ya. Kutunggu besok pagi"
  • Sms ketiga masuk lagi, dengan pesan: Judul puisinya Untuk Indonesiaku
  • Saya jawab sms tersebut, demikian: Baik dok, saya resapi dulu. Besok saya kirim via e-mail.
  • Jawab bos saya: Tq berat. Bisalah.
Maka inilah hasil gubahan saya...moga-moga bos saya-seorang dokter-berkenan meng-acc-nya pagi ini...



Bagimu Indonesiaku



Permata hijau bertahta, di tengah mahligai Sumatra
Zambrud Khatulistiwa, bersolek rimbunan Liana
Wahai pandita bijaksana, seru Persada Nusantara
Olahlah permata hijau, jadi berlian elok rupa
Tujuan mulia, persembahan bagi anak Indonesia

Friday, July 23, 2010

Dunia Kata-Kata


Saya menyukai segala sesuatu yang berkaitan dengan tulisan, baik itu menulis sendiri maupun membaca. Namun menulis memang lebih menarik bagi saya. Terjebak dalam kata-kata sangat mengasyikkan...apalagi bila harus mencari 'satu kata' yang dapat memecah kekakuan alur tulisan, sangat menantang!

Kini, saya terjebak dalam keasyikan dunia kata-kata. Pekerjaan baru di bidang PR membuat saya harus bersentuhan dengan kata-kata, mulai dari terbit fajar hingga ia tenggelam di senja hari. Bahkan, terkadang saya masih berkutat menerima tantangan kata-kata hingga dini hari, saat matahari akan terbangun dari peraduannya.

Memang mengasyikkan bila hobi akhirnya bisa menjadi pekerjaan. Ia tak hanya menghasilkan kepuasaan batin, tetapi yang terpenting dapat memenuhi pula kebutuhan lahiriah. Dinamika dunia kata-kata sangat saya rasakan dalam keseharian aktivitas kini. Kalau dulu saya hanya menjadikan menulis sebagai hobi, dan mewajibkan diri untuk menulis minimal satu kali seminggu, maka kini tak ada kompromi...tak ada hari tanpa menulis!

Bila terjebak dalam kemacetan adalah hal yang menyebalkan dan menakutkan...maka terjebak dalam kata-kata justru amat menantang dan memperkaya wawasan berpikir seseorang. Maka jebaklah saya, wahai kata-kata...dan akan kuselami makin dalam duniamu!

Saturday, July 17, 2010

Suamiku Sayang


Suamiku sayang, kenapa kok selalu mengganggu ketika aku sedang asyik menulis?
Ada-ada saja yang dikerjakannya... kadang mencubit, kadang menggelitik, atau sekedar merebahkan kepalanya di bahu saya. Pokoknya dia selalu cemburu pada keintiman saya dengan tuts-tuts komputer.

Malam ini, kami berdua saja di rumah. Anak-anak sedang seru menginap di rumah kakek-nenek mereka yang baru saja punya nintendo wii. Nah, dia mulai iseng lagi mengganggu saya yang tengah asyik menulis, bercengkrama dengan tuts-tuts laptop. Aduh...saya semakin terganggu dan tidak bisa berkonsentrasi lagi. Bagaimana jadinya ini, suamiku?

Nah, dia makin tidak rela saya berlama-lama menulis. Tangannya mulai menggelitiki saya...ini tandanya sudah tidak ada lagi kompromi...harus segera berhenti menulis!

Huaaam...baiklah, saya sudahi dulu. Lagipula sudah mengantuk juga...
Suamiku yang pencemburu sudah mulai merajuk...tandanya dia juga sudah mengantuk!
Oke, oke...matikan lampunya sayang...yuk kita bobo!